Munculnya beberapa kandidat presiden yang berasal dari background militer, membuat saya - dan mungkin juga sebagian masyarakat, resah dan kawatir akan kembalinya era militerisme Soeharto dalam pemerintahan Indonesia yang sudah mulai menganut paham dan nilai demokrasi, setelah dalam beberapa dekade dicekoki oleh nilai sentralisme dan otoritarian.
Kembalinya militerisme ke panggung politik akan sangat merugikan dan menghancurkan proses demorasi ini: kebebasan berpendapat dan beropini akan terancam, komunitas politik akan terhapus, dan tidak hanya itu, ditakutkan akan kembali marak penangkapan aktifis politik seperti era orde baru. Hal itu sangat mengerikan, dan mungkin lebih mengerikan daripada tragedi 30 September PKI, yang pada masa Soeharto selalu diperingati dengan sebutan peringatan G 30 S PKI (saya ingat betul pada masa kecil saya setiap tanggal 30 September seperti sekarang ini, televisi akan bergabung menyiarkan atau menyetel film G 30 S PKI).
Jangan sampai kebebasan yang baru kita rasakan ini - dari masa revolusi 1998-2008 - tenggelam dan hilang seperti angin lewat. Selama 32 tahun kita sudah hidup di bawah pemerintahan militer dan diktator, dan baru 10 tahun kita menghirup kebebasan berekspresi, berkomunitas, berdemo, dan berpendapat. Sungguh sangat disayangkan kalau hal ini akan sirna di bawah kepemimpinan militer yang akan maju mencalonkan diri di pemilu 2009 sebentar lagi.
Di dalam kepemimpinan kita tidak akan punya banyak pilihan, pilihannya hanya ada 2: with us or with them (kami atau mereka). Jika with us, come to us and do our commands, dan jika with them, go to hell and live in jail or cell. Mengerikan sekali.... Hidup seperti budak yang tidak boleh menjawab "tidak" terhadap setiap permintaan. Padahal jawaban dari permintaan atau pertanyaan itu sendiri ada 3: ya, tidak, dan no comment.[fosifrenzy]



