Sabtu sore itu aku tiba di rumah mereka sekitar
jam 17.00, dan ketika masuk ke rumah hanya ada Cindy, keponakanku yang
baru berumur tiga belas tahun dan duduk di kelas dua SLTP. Ibunya,
Vivi, sedang pergi arisan di rumah temannya sejak jam 12.00 siang tadi
dan menurut Cindy baru akan kembali sekitar jam delapan malam, seperti
biasanya. Ayah Cindy adalah seorang teman karibku yang telah meninggal
dunia tiga tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di luar
kota, dan sejak itu aku sering mengunjungi keluarga ini untuk menghibur
agar mereka tidak terlalu merasa kesepian.
Kehidupan
mereka ditopang oleh ibu Cindy, yang bekerja di sebuah perusahaan asing
sebagai sekretaris dan kelihatannya mereka dapat hidup berkecukupan.
Vivi, ibu Cindy telah lama kenal denganku dan kami sering pergi bertiga
kemana-mana bila ada waktu luang, dan tanpa terasa aku seolah telah
menjadi pengganti kepala keluarga mereka. Keduanya sangat manja
kepadaku sehingga seringkali aku merasa seolah berada di tengah
keluarga sendiri bila sedang bersama mereka, dan terutama Cindy yang
kukenal sejak lahir, walaupun telah berumur tiga belas tahun tapi ia
tidak segan untuk duduk di pangkuanku bila menginginkan sesuatu dariku.
Setibanya
di rumah mereka, aku segera menuju ke kamarku yang memang selalu mereka
sediakan untukku dan kemudian aku mandi untuk menghilangkan rasa lelah.
Selesai mandi aku berpakaian santai, baju kaos dan celana pendek, lalu
menonton TV di ruang tengah dimana Cindy berada dari tadi. Aku duduk di
sofa dan Cindy duduk di sampingku dengan kedua kaki dilipat disofa, ia
hanya memakai daster rumah saja karena hari itu adalah akhir minggu,
sehingga ia tidak mempunyai tugas sekolah.
Kami
menonton acara mengenai kehidupan sebuah keluarga yang tidak memiliki
ayah lagi, sehingga si ibu harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya
dan kedua anaknya yang masih bersekolah, dan di tengah keasyikan kami
menonton Cindy berkata.
"Oom, kasihan ya keluarga itu, Ibunya mesti kerja keras untuk sekolah anak-anaknya!"
"Ya
Cindy, begitulah orang tua, selalu mendahulukan kepentingan anak, kamu
untung memiliki Mama yang bekerja dengan penghasilan cukup, sehingga
kalian tidak kekurangan." jawabku.
"Iya
Oom, Cindy juga merasa beruntung masih ada Oom yang mau memperhatikan
kami, kalau enggak entah bagaimana nasib kami." ujar Cindy lagi.
"Oom 'kan sudah kenal kamu sejak lahir, masa Oom mau lupa sama kalian, apalagi Mama juga baik sama Oom!" jawabku menimpali.
"Iya
Oom, tapi Cindy sekarang 'kan sudah besar Oom, sudah tiga belas tahun,
maunya Oom jangan menganggap Cindy seperti anak kecil lagi dong!"
ujarnya manja.
"Lho.., maksudmu bagaimana..? Kan Oom juga memperlakukan Cindy sebagai seorang anak gadis sekarang?" aku menjawab.
"Betul Oom? Cindy sudah Oom anggap seperti seorang gadis?" ia menyela dengan nada riang.
"Iya,
betul dong, masa Oom akan menganggap kamu seperti anak kecil terus!
'Kan kamu sekarang sudah besar, tubuhmu juga sudah tumbuh menjadi
seorang gadis!" aku menjawab.
Cindy
rupanya merasa senang sekali dengan jawabanku, lalu sambil mendekatkan
tubuhnya padaku ia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.
"Kalau begitu Oom mesti anggap Cindy sebagai seorang gadis ya, enggak
boleh anggap Cindy sebagai keponakan lagi. Benar ya Oom!"
Walaupun
tidak mengerti maksudnya, aku hanya mengangguk saja sambil terus
menonton TV, dan Cindy menyandarkan tubuhnya kepadaku. Kepalanya
disandarkan di dadaku lalu ia berkata.
"Oom,
sebenarnya Cindy dan Mama sering membicarakan Oom, kami ingin Oom turut
dalam kegiatan pribadi Cindy dan Mama supaya lengkap!"
Aku tambah tidak mengerti dan bertanya, "Apa maksudmu dengan kegiatan pribadimu dengan Mama?"
"Begini Oom, tapi janji ya Oom tidak akan marah?" aku mengangguk berjanji.
"Sebetulnya Mama dan Cindy 'kan sering bermain seks karena tidak ada hiburan kalau sudah malam, apalagi kalau sudah sepi!"
Aku
terkejut bukan main mendengar penjelasannya yang tidak disangka-sangka
itu, dan di tengah keingin tahuanku, aku bertanya lagi padanya.
"Maksudmu apa sih Cindy? Masa kamu main seks dengan Mama? 'Kan sama-sama wanita?"
"Iya
Oom, Mama yang ngajarin Cindy sejak setengah tahun yang lalu, waktu
Cindy baru naik kekelas dua, terus Mama kasih hadiah itu. Cara-cara
main seks dengan Mama! Tapi Mama bilang permainan itu akan lebih seru
lagi kalau ada pasangan pria, jadi permainannya bisa lebih lengkap! Oom
enggak marah 'kan Cindy ceritain begitu?"
Aku
sungguh tidak menduga bahwa Vivi telah menggunakan anaknya sendiri
untuk mengatasi keinginan seksnya setelah ditinggalkan suami selama
tiga tahun, aku dapat mengerti bahwa Vivi membutuhkan penyaluran untuk
kebutuhan biologisnya, tetapi bahwa ia mempergunakan anaknya
sungguh-sungguh di luar dugaanku. Dan tanpa kusadari Cindy kini telah
duduk di pangkuanku sambil memelukkan kedua tangannya ke leherku dan
berkata lembut.
"Oom
enggak percaya ya..? Mari Cindy tunjukin sama Oom bahwa Cindy juga
sudah bisa bermain seks sama lelaki.. 'kan Mama suka ceritain caranya
sama Cindy kalau kami lagi asyik berdua di kamar Mama..!"
Lalu
ia mulai mencium mulutku dengan lembut dan terasa lidahnya menjulur
keluar dan menyelip masuk ke mulutku, lalu menjilati seluruh bagian
dalam mulutku. Aku memang mulai terangsang oleh ulah keponakanku ini,
apalagi aroma tubuhnya yang harum itu membuatku terhanyut dalam keadaan
ini, namun aku berusaha melepaskan ciumannya dan bertanya dalam
keterengahan nafasku yang memburu.
"Lalu kalau kamu sedang main sama Mama, bagaimana caranya supaya kalian berdua bisa mencapai klimaks..?"
Sementara
itu Cindy mulai melepaskan kancing atas dasternya, sehingga kedua buah
dadanya yang mungil dapat kulihat dengan putingnya yang berwarna merah
jambu.
"Biasanya sih Cindy dan Mama
suka cara enam sembilan Oom, tapi kadang-kadang kami pakai dildo juga
Oom supaya lebih seru, karena bisa klimaks terus selama dildonya masih
jalan..!"
"Jadi kalau begitu kamu sudah tidak perawan lagi..?" aku bertanya dengan bodohnya.
"Ya
enggak lagi dong Oom.. bagaimana sih Oom ini..!" Cindy menjawab sambil
melepas kancing dasternya yang terakhir, lalu ia berdiri dari
pangkuanku dan mulai melepaskan t-shirtku.
Kemudian
ia merebahkan diriku di sofa dan melepaskan celana pendek serta celana
dalamku. Kini kami berdua sudah telanjang bulat, aku terbaring di sofa
dan Cindy menelungkupkan tubuhnya di atasku dan mulai lagi menciumi
mulutku. Kali ini dengan bernafsu sekali! Nafsuku mulai memuncak,
penisku mulai mengeras diantara gesekan kedua pahanya yang putih dan
lembut itu serta tekanan kedua buah dadanya yang mungil membuat nafsuku
semakin memuncak, walaupun aku masih membayangkan bahwa gadis yang
sekarang berada di atas tubuhku adalah keponakanku yang kukenal sejak
ia lahir ke dunia ini. Sungguh tidak masuk akal tetapi sekarang sedang
terjadi sebuah peristiwa yang tidak pernah terbayang sebelumnya..!
Cindy
mengulum mulutku dengan ahli dan penuh nafsu. Aku tak dapat menguasai
diriku lagi dan mulai membalas kumulannya dengan penuh nafsu pula. Aku
mulai menghisap mulutnya dan lidahku pun masuk ke mulutnya dan
menjilati seluruh bagian dalam mulutnya. Punggungnya kuusap lembut
dengan kedua tanganku, lalu usapan tanganku semakin turun ke arah
pinggulnya dan akhirnya sampai ke pangkal pahanya yang lembut sekali
dan terasa olehku Cindy membuka kedua pahanya, sehingga tanganku
leluasa bermain mengelus-elus diantara kedua pahanya. Dan akhirnya
tanganku tiba pada vaginanya yang sudah basah.. masih belum berbulu.
Aku
memasukkan jariku sedikit ke dalam vaginanya dan terasa bagaimana
vagina yang mungil itu berdenyut lembut pada jariku. Ini membuatku
semakin bernafsu dan akhirnya aku sudah tak memikirkan apa-apa lagi,
tubuhnya kuangkat dari tubuhku dan Cindy kugendong menuju kamarnya.
Setibanya
di kamar aku segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, lalu
aku berbaring di sampingnya sambil memandang kedua buah dadanya yang
kecil mungil. Dan dengan perlahan mulutku mulai mengisap puting dadanya
yang sebelah kiri, lembut dan harum. Aku menghisapnya lebih kuat dan
terdengar Cindy merintih lirih.
"Aduuhh Oom.. terus Oom.. isap yang kuat Ooomm.. aduuhh.. teruuss Ooomm.. aduuhh..!"
Aku
semakin tak kuasa menahan nafsuku ketika terasa tangan Cindy
menggenggam penisku yang sudah tegang dan keras dan mulai mengocoknya
dengan lembut.
Aku
sendiri masih terus menghisap buah dadanya, sementara tangan kiriku
terus mengelus dan mengusap vaginanya yang sudah sangat basah. Kedua
pahanya sudah terbuka lebar. Lalu mulutku pindah ke buah dadanya yang
kanan dan menghisap dengan kuat sampai seluruh dagingnya masuk ke dalam
mulutku. Nafas Cindy terengah-engah dan rintihannya terus terdengar
lemah.
"Aduuhh Ooom.. teruuss
Ooomm.. adduuhh.. aadduuhh.. teruuss Ooomm..!" tubuhnya yang mungil
menggelinjang tidak karuan menahan kenikmatan yang dirasakannya.
Remasan tangannya pada penisku bertambah kuat dan cepat.
Aku
merasa bahwa Cindy sudah hampir mencapai klimaksnya. Tangannya yang
meremas-remas penisku terasa menarik penisku ke arah vaginanya. Aku
sendiri sudah tidak dapat menguasai diri lagi. Tubuhku mengikuti
tarikan tangan Cindy, dan akhirnya aku sudah berada di antara kedua
pahanya yang terbuka lebar dan ujung penisku terasa menyentuh
vaginanya, hangat dan basah serta berdenyut.
Cindy kembali merintih, "Ayoo Ooomm.. masukin sekarang Ooomm.. Cindy enggak tahan lagi Ooomm.. ayoo Ooomm.. aadduuhh..!"
Aku
menekan sedikit dan terasa kepala penisku masuk ke dalam vaginanya yang
agak sempit. Denyutan vaginanya terasa lembut meremas kepala penisku.
Aku menekan lagi dan terus menekan sampai akhirnya seluruh penisku
telah masuk dan terasa remasan vaginanya yang begitu lembut bagai
sutera membuatku tidak dapat menahan nafsuku lagi dan aku mulai
mengeluar-masukkan penisku dengan gerakan lambat diikuti oleh gerakan
pinggul Cindy yang memutar. Dan kami berdua segera asyik dalam sanggama
yang pertama bagi aku dan Cindy, gadis berusia tiga belas tahun ini.
Aku
terus memompa Cindy dengan gerakan lambat dan panjang, sedangkan
gerakan pinggulnya yang memutar-mutar mulai terasa tidak beraturan
lagi. Cindy sudah semakin dekat pada klimaksnya, kedua tangannya
memeluk tubuhku dengan eratnya. Nafasnya terengah-engah, tubuh kami
bercucuran keringat. Kami semakin asyik dalam sanggama yang nikmat ini.
Denyutan vaginanya yang sempit terasa semakin cepat dan kuat,
rintihannya juga semakin kuat.
"Aadduuhh
Ooomm.. Cindy enggak tahan lagi.. aadduuhh.. Ooomm.. lebih cepat
Ooomm.. lagii Ooomm.. aadduuhh.. ayoo Ooomm.. aadduuhh.. aadduuhh..!"
Aku
sendiri semakin bernafsu dan mulai tak dapat menguasai gerakanku lagi.
Aku memompa Cindy semakin cepat dan kuat. Cindy sendiri sudah begitu
asyik dengan kenikmatan yang dirasakannya. Pinggulnya memutar dengan
tidak beraturan lagi. Nafasnya mendengus dan rintihannya semakin kuat
pula.
"Ayoo Ooomm.. lebih cepat
Ooomm.. Cindy sudah mau keluaar.. aadduuhh.. mau keluaarr.. aadduuhh..
Cindy keluar Ooomm.. keluaarr.. aadduuhh..!"
Tubuh
Cindy menggelinjang hebat. Kedua tangannya memelukku erat sekali dan
tiba-tiba tubuhnya menyentak kuat, lalu menggelinjang hebat saat Cindy
tiba dan meledak dalam orgasme yang begitu dahsyat pada puncak
klimaksnya yang nikmat luar biasa. Yang terdengar hanya rintihannya.
"Cindy keluar.. keluaarr.. hah.. hah.. aadduuhh.. keluaarr.. aadduuhh..!"
Dan tubuhnya terus menggelinjang sementara aku terus memompanya dengan cepat. Aku juga merasa semakin dekat dengan klimaksku.
Rintihan
klimaks Cindy membuat nafsuku semakin memuncak dan aku terus memompa
dengan cepat. Aku sudah merasa hampir tiba pada klimaksku. Aku semakin
dekat dan penisku terasa semakin besar dan besar dan akhirnya aku tak
kuasa menahannya lagi. Dan penisku meledak bergumpal-gumpal di tengah
kenikmatan remasan vagina Cindy yang lembut luar biasa. Tubuhku
menegang sebentar, kemudian aku tersentak-sentak tak dapat menahan
kenikmatan luar biasa yang diberikan oleh vagina Cindy yang meremas
lembut penisku. Tubuh kami saling menyentak dan menggelinjang dalam
kenikmatan luar biasa yang kami rasakan sebelum akhirnya kami berdua
terkulai lemas dengan nafas terengah-engah dan keringat membasahi tubuh
kami dan aku masih tetap berada di atas tubuh Cindy dengan penisku di
dalam vaginanya yang masih berdenyut lemah.
Setelah
beberapa saat, Cindy mulai menciumi wajahku sambil berkata, "Aduuhh
Oom.. Oom hebat sekali ya.. baru ini Cindy merasakan orgasme yang
begitu hebat.. hebat Oom..!"
Aku
hanya diam saja dan kemudian mencabut penisku dari vaginanya, dan
berbaring di sampingnya. Tubuh kami berkeringat dan terasa lemah
setelah klimaks yang luar biasa tadi. Untuk beberapa saat kami
beristirahat, lalu aku bangun dan masuk ke kamar mandi untuk
membersihkan diri. Cindy kemudian menyusulku di kamar mandi dan
akhirnya kami mandi bersama-sama di bawah siraman shower yang hangat.
Kami
saling menyabuni tubuh kami, dan ketika aku menyabuni Cindy, tanganku
tiba pada daerah dadanya dan dengan lembut aku menyabuni kedua buah
dadanya. Aku merasa terangsang oleh kelembutan kedua buah dadanya yang
mungil itu. Tanganku terus mengusap dan meremas kedua buah dadanya
dengan sabun, dan tiba-tiba kurasakan tangan Cindy menyabuni penisku
dengan amat lembutnya. Rupanya kami sama-sama terangsang dengan
permainan sabun ini. Penisku mulai mengeras lagi dalam genggaman tangan
Cindy yang terus menyabuninya dengan sedikit remasan-remasan lembut.
Aku
semakin terangsang, dan penisku semakin keras dan panjang, sementara
Cindy masih terus meremasnya dengan tangannya yang lembut bersabun. Dan
tanpa sadar tiba-tiba aku sudah terduduk di lantai kamar mandi dan
bersandar ke dinding. Cindy berlutut di hadapanku dengan tangan terus
mengocok penisku yang sudah tegang sekali. Siraman air hangat dari
shower telah menghanyutkan semua sabun di tubuh kami. Tubuh Cindy
kuraih dan kupeluk, lalu buah dadanya kuhisap dengan kuat sampai tubuh
Cindy tersentak. Kedua putingnya kuhisap bergantian dan tanganku
kembali mengelus di antara kedua pahanya, dan ternyata vaginanya sudah
basah lagi. Jariku terus mengelus lembut vaginanya yang basah.
Cindy
kembali membuka kedua pahanya lebih lebar sambil terus mengocok penisku
dengan tangannya yang lembut. Aku tak dapat menahan gejolak nafsuku
lagi, lalu aku berdiri dan mematikan shower, kemudian tubuh Cindy
kukeringkan dengan handuk, dan setelah itu Cindy mengeringkan tubuhku.
Lalu kami menuju ke kamarnya dan berbaring lagi di tempat tidurnya.
Kini
tubuh Cindy yang berada di atas tubuhku dengan kedua paha terbuka
lebar. Tanganku terus mengelus vaginanya yang basah sekali, sementara
Cindy menghisap mulutku dengan bernafsu. Lalu tubuhnya kuangkat, aku
duduk di tempat tidur dan Cindy kududukkan di pangkuanku dengan kedua
pahanya di samping tubuhku dan mulai menghisap kedua buah dadanya
dengan kuat sampai tubuh Cindy tersentak-sentak, sementara tanganku
yang lain terus mengelus vaginanya. Tangan Cindy terus meremas-remas
penisku yang sudah tegang dan besar sekali. Rintihan Cindy mulai
terdengar.
"Aduuhh Ooom.. aadduuhh.. isap teruuss Oom.. isap yang kuat Ooomm.. lagii.. lagii.. aadduuhh..!"
Tubuh
kami kembali berkeringat dalam pergumulan ini. Aku terus menghisap
kedua buah dadanya bergantian, dan tanganku juga terus mengelus
vaginanya yang sudah basah sekali. Rupanya Cindy tak dapat menguasai
dirinya lagi, tubuhnya tak henti-hentinya menyentak dan menggeliat,
sementara mulutku tak lepas dari kedua buah dadanya yang mungil lembut
itu. Ia mengangkat tubuhnya sedikit, lalu menurunkan vaginanya tepat
pada penisku dan dengan sekejap penisku telah masuk seluruhnya ke
vaginanya yang berdenyut basah disertai rintihan lirihnya.
"Ayoo Ooomm.. Cindy enggak tahan lagi.. aadduuhh Ooomm.. ayoo Ooomm.. aduuhh..!"
Dan
Cindy mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dengan liar, sementara aku
terus saja menghisap kedua buah dadanya bergantian yang membuat Cindy
semakin bernafsu. Rintihan Cindy terdengar semakin kuat.
"Aadduuhh Ooomm.. aadduuhh.. Cindy enggak tahan lagi Ooomm.. aadduuhh.. aadduuhh.. Ooomm..!"
Gerakan
Cindy semakin kuat dan denyutan vaginanya semakin kuat pula. Aku mulai
terbawa oleh irama nafsu Cindy yang sudah memuncak. Aku menghisap kedua
buah dadanya lebih kuat. Penisku terasa semakin panjang dan besar di
tengah remasan vaginanya yang begitu lembut. Kami begitu asyik dalam
pergumulan seks ini dan sudah tak dapat menguasai diri kami lagi.
Nafas
kami terengah-engah dengan keringat membasahi sekujur tubuh. Gerakan
Cindy semakin cepat dan cepat, sementara denyutan vaginanya juga terasa
semakin kuat. Kami sudah tidak perduli dengan keadaan di sekitar kami.
"Aadduuhh Ooomm.. Cindy mau keluaarr.. aadduuhh.. mau keluar Ooomm.. aadduuh Ooomm.. Cindy mau keluaarr.. aadduuhh..!"
Aku
juga merasa semakin dekat dengan klimaksku. Rasanya aku pun tak dapat
menahannya lagi, dan pada saat itu aku merebahkan tubuhku dengan Cindy
tetap berada di atasku. Kedua pahanya yang lembut halus terbuka lebar
dan aku mulai memompa Cindy dengan cepat.
Tiba-tiba tubuh Cindy menyentak kuat lalu menggelinjang hebat, dan terdengar rintihan nikmatnya.
"Aadduuhh Ooomm.. Cindy keluaarr.. aadduuhh.. keluaarr.. Ooomm.. aadduuhh..!"
Cindy
meledak dalam puncak orgasmenya yang nikmat luar biasa disertai
gelinjang tubuh yang menyentak-nyentak dan gigitan kuat pada bahuku.
Aku juga sudah dekat sekali dengan klimaksku. Penisku rasanya membesar
dan membengkak di antara remasan kuat vaginanya yang begitu lembut. Aku
tak dapat menahannya lagi. Dan akhirnya.. tak dapat kutahan lagi.
Penisku
meledak bergumpal-gumpal dalam orgasme yang nikmat luar biasa yang
membuat tubuhku menyentak dan menggelepar-gelepar di tengah kenikmatan
luar biasa remasan vagina Cindy yang begitu lembut. Aku masih terus
memompa Cindy dengan cepat dan kuat, sementara tubuh kami berdua
menggelepar-gelepar tidak karuan tak dapat menahan kenikmatan luar
biasa yang kami alami saat itu. Sampai akhirnya kami terkulai lemah
dengan Cindy tetap berada di atas tubuhku dan penisku masih berada di
dalam vaginanya yang masih terus berdenyut-denyut lemah. Dan akhirnya
kami tertidur lelap dalam kelelahan setelah mengalami klimaks yang
nikmat luar biasa tadi.
Kami terbangun ketika jam dinding di kamar
Cindy menunjukkan waktu pukul setengah delapan dan di luar sudah gelap,
Cindy melepaskan diri dari tubuhku, memakai dasternya dan keluar kamar
untuk menghidupkan lampu. Aku ke kamar mandi dan mandi sekali lagi
untuk membersihkan tubuhku dengan siraman air hangat dari shower,
setelah selesai aku kembali memakai t-shirt-ku dan celana pendek, lalu
kembali ke ruang tengah melihat TV yang sekarang sedang menayangkan
acara hiburan.
Cindy
masuk ke kamarnya dan kurasa ia juga mandi untuk menyegarkan tubuhnya,
karena ketika keluar ia sudah memakai baju kaos ketat dan celana
pendek, lalu duduk di sampingku sambil merebahkan kepalanya di dadaku.
"Sekarang Oom percaya 'kan sama apa yang Cindy bilang..?" Cindy membuka pembicaraan.
"Iya, tapi menurut Oom itu tidak baik, karena kamu 'kan masih di bawah umur..!" aku menjawab.
"Ah..,
Oom ini bagaimana sih, sekarang 'kan umur tidak menjadi soal lagi! Yang
penting 'kan dia bisa melakukan seks dengan baik. Oom kuno ahh..!"
Cindy menukas sambil mencubit pahaku dengan manja.
"Iya
lah.. Oom enggak bisa bilang apa-apa lagi, yang penting Mama jangan
sampai tahu, ya..!" aku menjawab sambil memeluk tubuhnya yang langsing.
"Ahh.., biar aja Mama tahu, 'kan memang ini yang diinginkan Mama..!" Cindy menukas lagi.
"Kamu yakin Mama enggak marah kalau tahu kita sudah pernah main seks..?" tanyaku lagi.
"Pasti
deh Oom, lihat aja nanti kalau Mama pulang, Cindy akan cerita dan pasti
Mama enggak akan marah..!" ia berkata yakin sambil merebahkan tubuhnya
di pangkuanku.
"Ya terserah kamu deh Cindy, Oom cuma nurut saja!" aku mengiyakan sambil menarik nafas.
Kami
masih terus menonton TV ketika terdengar suara mobil memasuki
pekarangan, dan tak lama kemudian suara pintu depan dibuka dan Mamanya
melangkah masuk ke ruang tengah.
"Wah.. wah.. rupanya kalian berdua belum tidur ya. Apa kabar, Kak..?" Vivi menyapaku.
"Kabar baik, bagaimana arisannya tadi..?" aku balik menyapanya.
"Lumayan
lah, Vivi bertemu teman-teman dan ngobrol panjang lebar. Cindy, kok
kamu begitu.., tiduran di pangkuan Oom, apa enggak malu anak gadis
masih kolokan..?" ia menegur Cindy.
"Ah, enggak apa-apa kok Ma, malahan Cindy dan Oom barusan selesai dari kamar Cindy..!"
"Lho.., ngapain kamu di kamar sama Oom..?" Vivi bertanya lagi.
"Itu
lho Ma.., yang dulu Mama pernah bilang.., ternyata Oom hebat sekali
Ma.., Cindy belum pernah merasakan kayak begitu, malahan tadi sampai
dua kali Ma..!" Cindy menjelaskan.
"Jadi
kalian berdua tadi.., waduh Cindy.., Mama rugi dong kalau begitu! Kalau
tahu tentu Mama tidak pergi arisan tadi, lebih baik disini aja pesta
bertiga..!" Vivi menjawab sambil tersenyum ke arahku lalu masuk ke
kamarnya.
Tak
berapa lama kemudian pintu kamar Vivi terbuka separuh dan terlihat Vivi
di balik pintu dengan daster putihnya melambaikan tangan mengajak kami
masuk.
Cindy berdiri dan menarik
tanganku sambil mengatakan, "Benar 'kan Oom, Mama enggak marah..,
malahan sekarang ngajak lagi tuh..! Ayo.., kita ke kamar Mama..!" Cindy
mengajak.
Aku tak dapat menolak
lagi dan menurut saja ketika Cindy menarik tanganku memasuki kamar Vivi
yang luas dengan tempat tidur ukuran super king size yang dapat
menampung empat orang.
Vivi
langsung mengunci pintu kamarnya dan mengecilkan lampu, sehingga
suasana menjadi sedikit temaram, lalu Vivi mulai melepaskan dasternya,
ternyata ia tidak memakai apa-apa lagi di baliknya. Tubuhnya yang putih
montok sangat menggiurkan, buah dadanya yang besar dan padat terlihat
sangat menantang dengan putingnya yang merah jambu. Aku tak dapat
berbuat apa-apa lagi ketika Cindy melepaskan seluruh pakaianku dan
kemudian melepaskan baju kaos dan celana pendeknya, kini kami bertiga
sudah telanjang bulat.
Vivi
segera menarik tanganku ke arah tempat tidur, lalu ia menelentangkan
tubuhku di tempat tidur dan sambil menelungkup di atasku, Vivi mulai
menghisap mulutku dengan penuh nafsu. Aku membalas ciumannya dengan
bernafsu pula, sementara itu terasa olehku tangan mungil Cindy yang
lembut halus menggenggam penisku yang sudah menegang keras dan mulai
mengocoknya dengan gerakan lembut yang begitu merangsang.
Nafsuku
memuncak dengan cepat. Aku dan Vivi saling menghisap, dan Vivi demikian
liarnya sehingga aku agak kewalahan menghadapinya. Hisapannya pada
mulutku kuat sekali, sementara tangannya mengelus seluruh tubuhku dari
dada, perut, pinggul, dan pahaku. Aku merasa kewalahan menghadapi dua
wanita yang begitu liar dan ganas ini.
Tiba-tiba
Vivi melepaskan kuluman mulutnya dan berkata, "Ayo Kak.. isap ini yang
kuat..!" sambil tangannya mengangsurkan buah dadanya yang kanan ke arah
mulutku.
Aku segera saja melakukan apa yang dimintanya.
Aku
menghisap buah dadanya dengan kuat sambil memainkan lidahku pada
putingnya yang merah jambu, membuat Vivi merintih lirih dalam
kenikmatan yang dirasakannya.
"Adduuhh Kaak.. adduuhh.. isap yang kuat Kaak.. lebih kuat Kaak.. aadduuhh.. terus isap Kaak.. aadduuhh.. aaduh..!"
Tubuh
Vivi menggeliat-geliat menahan kenikmatan itu. Keharuman aroma tubuhnya
membuatku semakin menggila, ditambah dengan remasan dan kocokan tangan
Cindy pada penisku yang tegang luar biasa, membuatku semakin tak dapat
menguasai diriku. Kedua tangan Vivi berada di samping kepalaku sambil
merenggut rambutku dengan kuat.
Nafasnya
terdengar memburu disertai erangan nikmat dan rintihan lirihnya,
"Aadduuhh Kaak.. isap teruuss Kaak.. aadduuhh.. teruus.. lebih kuaat..
aaduuh..!"
Lalu Vivi melepaskan
buah dadanya yang kanan dari mulutku dan meletakkan buah dadanya yang
kiri di atas mulutku sambil berkata, "Sekarang yang ini Kak.., ayo isap
yang kuat seperti tadi.., ayo Kaak.. ayo cepat isap.. aadduuh..!"
Aku
menghisapnya dengan kuat dan mengulum putingnya serta memainkan lidahku
disitu. Tanganku mengelus vaginanya yang basah dan berdenyut, ini
membuat Vivi semakin bernafsu dan menggila demikian liarnya. Renggutan
tangannya pada rambutku terasa begitu kuat disertai nafasnya yang
terengah-engah dan rintihan nikmatnya.
"Ayoo Kaak.. aadduuhh.. ayoo isap yang kuaat.. aadduuhh.. teruuss.. aadduuhh..!"
Nafas
Vivi mendengus-dengus menandakan nafsunya yang sudah sangat memuncak.
Tubuhnya sudah berada di atas tubuhku dengan kedua pahanya yang mulus
lembut terbuka lebar. Tanganku terus mengelus vaginanya yang sudah
sangat basah dengan jariku, membuat Vivi semakin liar dan ganas.
Pinggulnya mulai bergerak naik turun dan memutar mengikuti irama
gerakan jariku di vaginanya yang berdenyut basah. Aku memasukkan jariku
dan menggerakkannya keluar masuk.
Vivi
semakin liar dan ganas. Pinggulnya bergerak naik turun tak beraturan
sekarang. Ia menekankan buah dadanya ke mulutku dan menggerakkannya
memutar-mutar. Rintihannya semakin lirih dan sayu.
"Ayoo Kaak.. masukin sekarang Kaak.. Vivi enggak tahan lagi.. ayoo masukiin.. aadduuhh.. aadduuh..!"
Terasa
tangan Cindy sambil mengocok membawa penisku yang sangat tegang ke arah
vagina Vivi yang berdenyut-denyut. Dan ketika terasa ujung penisku
menyentuh vaginanya, Vivi menurunkan badannya sedikit, sehingga kepala
penisku masuk ke dalam vaginanya yang terasa meremas penisku dengan
denyutan amat lembut.
Vivi merintih lirih dalam kenikmatannya, "Ayoo Kaak.. masukin teruuss.. ayoo.. aadduuhh.. ayoo..!"
Aku
tak dapat menahannya lagi dan menekan ke atas, sehingga seluruh penisku
kini masuk ke dalam vaginanya yang berdenyut lembut meremas penisku
dengan kuat. Aku mulai memompa Vivi dengan gerakan panjang dan lambat
yang membuat Vivi semakin gila.
"Aaduhh Kaak.. yang cepat Kaak.. aduhh.. lebih cepat lagi.. lagii.. aaduh.. ayoo. aaduuh..!"
Aku
memompa lebih cepat di tengah remasan vagina Vivi yang terasa begitu
lembut. Aku memompa semakin cepat dan cepat sambil terus menghisap buah
dadanya dengan kuat. Penisku terasa membesar dan membesar di dalam
remasan vaginanya yang lembut luar biasa.
Aku tak dapat menahan diriku lagi, dan Vivi juga menjadi semakin liar dan begitu ganas dalam gejolak nafsunya.
"Aaduhh Kaak.. ayoo Kaak.. lebih cepat Kaak.. lagii.. lagii.. aaduuhh.. aduh..!"
Kami
bergumul dengan asyik penuh nafsu dalam kenikmatan yang tiada taranya,
dengus nafas kami menderu-deru dalam berpacu menuju puncak kenikmatan
yang menanti kami dalam klimaks yang terasa semakin dekat dan dekat.
Tak ada lagi yang dapat menghentikan kami sekarang. Pinggul Vivi
berputar dalam gerakan naik turun yang cepat mengikuti gerakan penisku
yang memompa semakin cepat dan kuat. Rasanya penisku mulai membesar dan
terus membesar disertai rasa nikmat luar biasa dalam remasan vagina
Vivi yang basah dan lembut.
Kedua
tangan Vivi masih terus mencengkeram rambutku. Hisapanku pada buah
dadanya semakin kuat, sehingga hampir seluruh daging buah dadanya masuk
ke mulutku. Sementara itu kedua tangan lembut Cindy terus meremas-remas
kedua pangkal pahaku. Aku terus memompa Vivi dengan seluruh tenaga yang
ada padaku dalam remasan vaginanya yang lembut luar biasa. Penisku
terasa semakin membesar dan memanjang. Vivi merintih nikmat tak dapat
menahan nafsunya lagi.
"Aaduuhh
Kaak.. aduh.. teruuss Kaak.. lebih cepat lagi Kaak.. aku enggak bisa
tahan lagii.. aduhh.. sudah mau keluar Kaak.. mau keluaarr.. aduhh..!"
erangan dan rintihan Vivi menandakan ia sudah sangat dekat dengan
klimaksnya.
Aku
sendiri juga merasa sudah hampir tiba pada klimaksku. Aku menghisap
buah dadanya kuat sekali. Kami sudah sangat dekat pada klimaks kami dan
rasanya sudah tak tertahankan lagi. Sudah dekat sekali. Rintihan Vivi
semakin kuat.
"Aaduuh Kaak.. aku
mau keluar Kaak.. aduhh.. mau keluaar.. aduhh.. aku keluarr Kaak..
keluarr.. aduuhh Kaak.. keluar Kak.. keluarr.. aduuhh..!"
Vivi
tak dapat menahannya lagi. Tubuhnya menyentak kuat sekali kemudian
mulai menggelepar-gelepar dalam kenikmatan orgasmenya yang luar biasa
ketika ia meledak dalam puncak klimaksnya disertai remasan vaginanya
yang kuat dan lembut pada penisku.
Aku
juga sudah tak dapat lagi menahannya ketika kurasakan penisku
membengkak besar sekali dalam remasan vagina Vivi dan kenikmatan itu
mulai menjalar dari pangkal penisku menuju ke ujungnya. Aku memompa
Vivi cepat sekali, dan kini terasa kenikmatan itu sampai di ujung
penisku dan tanpa dapat kutahan lagi penisku meledak dahsyat dalam
gumpalan-gumpalan orgasme yang nikmat luar biasa diantara remasan
vagina Vivi yang begitu lembut. Tubuhku menyentak-nyentak tak dapat
menahan kenikmatan itu. Kami berpelukan erat sekali dalam klimaks yang
luar biasa nikmatnya.
"Aaduhh Kaak.. aku keluaarr Kaak.. aduhh.. keluar.. keluar.. aduuh.. adduuhh.. keluaarr.. aduh..!"
Vivi
setengah berteriak menahan kenikmatan saat ia mencapai puncak
orgasmenya dalam klimaks yang begitu dahsyat dengan kedua kakinya yang
merangkul ketat pada kedua pahaku. Kami masih terus bergumul dalam
ledakan klimaks yang sungguh luar biasa dengan tubuh
menggelepar-gelepar menahan kenikmatan itu sampai akhirnya kedua tubuh
kami terkulai lemah berkeringat dan nafas mendengus kelelahan.
Dalam
kelelahan yang amat sangat, akhirnya kami tertidur lelap sekali dan
baru terbangun ketika jam dinding di kamar Vivi berdentang sepuluh
kali. Malam itu kami menyantap makan malam yang terasa begitu nikmat
dengan lahap. Dan setelah selesai membersihkan piring di dapur, kami
bertiga kembali ke kamar Vivi untuk sebuah pergumulan seks yang lebih
dahsyat lagi.
TAMAT



